๐๐ผ๐ธ๐๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐๐ป๐๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ / ๐ฃ๐ผ๐ป๐๐ถ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐ธ๐ฎ๐น & ๐๐๐ถ๐ป๐ด
Pontianak atau Kuntilanak di Nusantara (Indonesia & Malaysia) telah terdokumentasi dalam catatan lokal ataupun catatan asing sejak tahun 1600an, beberapa diantaranya yakni:
- Description of Malaca, Meridional India, and Cathay (Manuel Godinho de Erรฉdia, 1613)
"Ada jenis penyihir lain, yang disebut " ponteanas", yang biasanya ditemukan tergantung di pohon-pohon tinggi dan pohon poplar atau " budes ": " ponteanas" ini dikatakan adalah wanita yang meninggal saat melahirkan, dan oleh karena itu merupakan musuh manusia: "ponteana" ini, khususnya, seharusnya merupakan jenis setan, karena punggung mereka terbuka dan terbakar"
- Cerita Kutai (1625) dalam De Kroniek van Kutai (C. A. Mess, 1935)
"berbunyilah yang Babu Jaruma: "Di mana suara tangis kanak-kanak itu." Maka bunyi lakinya: "Awak ini sedengar-dengari saja entah suara tangis anak bajangkah entah suara tangis puntianakkah siapa tahunya." Maka bunyi bininya: "Awak dengar-dengarkan jua baik-baik." Serta didengarkannya baik-baik olรฉh lakinya dan diawas-awasinya di laut dan di dalam buih ..."
- Political and Statistical Account of the British Settlements in the Straits of Malacca: Viz. Pinang, Malacca, and Singapore, with a History of the Malayan States on the Peninsula of Malacca, Volume 2 (Thomas John Newbold, 1839)
"Orang-orang Melayu, bahkan mereka yang paling berpendidikan sekalipun, sangat percaya takhayul. Berikut ini adalah nama-nama beberapa roh yang dianggap memberikan pengaruh buruk terhadap mereka di dunia sublunar ini. Pertama, Plissit dan Pontianak. Yang terakhir ini diduga adalah hantu seorang wanita yang sekarat saat melahirkan, dan biasanya terlihat dalam bentuk burung besar yang mengeluarkan tangisan sumbang. Ia menghantui hutan dan kuburan; muncul di hadapan laki-laki pada tengah malam, dan dikatakan dapat melemahkan mereka. Mereka menyebabkan sakit kepada anak-anak dan wanita hamil, menyebabkan keguguran"
- Hikayat Abdullah (Abdullah bin Abdul Kadir, 1849)
"Maka ka-pada suatu hari datang-lah pฤrฤmpuan China itu ka-pada istฤri Tuan Milne, kata-nya " Sa-malam anak sahaya di-rumah kฤna rasok puntianak dan polong, hampir mati." Maka istฤri Tuan Milne itu tiada mฤngฤrti akan pฤrkataan "puntianak" dan "polong" itu, maka bebฤrapa jฤnis di-nyatakan oleh pฤrฤmpuan China itu dฤngan tangan-nya dan mulut-nya, tiada juga ia mengerti; maka lalu datang-lah kฤdua-nya itu ka-dalam bilek tฤmpat aku mฤnulis, kata-nya, " Apa ฤrti-nya puntianak dan polong? " Maka tฤrtawalah aku, sฤrta ku ฤrtikan-lah ka-pada Tuan Milne dฤngan tฤrangnya akan sฤgala nama-nama hantu shaitan yang di-pฤrchaya oleh orang China dan Malayu yang bodoh lagi sia-sia, ia'itu turun-tฤmurun dari-pada nenek-moyang dahulu kala, tinggal lagi sampai sฤkarang"
- Quedah; or, Stray leaves from a journal in Malayan waters (Sherard Osborn, 1857)
"Aku melakukannya, dan sebuah getaran aneh, aku tidak malu untuk mengatakannya, menjalar ke dalam tulang-tulangku, saat aku melihat sesuatu yang tampak seperti sosok seorang wanita dengan kain yang dililitkan di sekelilingnya, seperti yang dikenakan oleh para wanita Hindu: sosok itu berpindah dari bawah bayang-bayang hutan, dan berhenti di salah satu bukit pasir putih, tidak lebih dari 300 yard jauhnya. Aku mengucek mataku! sementara penerjemahnya memanggil seorang suci Roma (dukun?), dan orang Melayu itu meludah dengan keras, seolah-olah ada seekor binatang najis yang melintasi jalannya. Sekali lagi aku melihat, dan lagi-lagi aku melihat bentuk yang sama: ia telah melewati laluan gelap, dan perlahan-lahan melintasi celah lain di dalam hutan"
- De Atjehers Deel I (C Snouck Hurgronje, 1893)
"Burong dalam takhayul masyarakat Aceh mempunyai banyak kesamaan dengan kunti atau kuntianak dalam masyarakat Sunda dan sundel bolong yang merupakan sosok yang ditakuti di wilayah-wilayah tertentu di Jawa. Seperti yang terakhir, burong dianggap memiliki bentuk seorang wanita dengan lubang besar di punggungnya, memperlihatkan organ-organ vital. Diduga banyak dari mereka adalah roh wanita yang melakukan dosa dan akibatnya mengalami akhir yang tidak bahagia. Dipercaya juga bahwa jumlah roh ganas ini bertambah dengan perempuan yang dibunuh oleh burong saat melahirkan, dan kemudian menjadi burong itu sendiri"
- In court & kampong; being tales & sketches of native life in the Malay Peninsula (Clifford, Hugh Charles, 1897)
"Mati-anak yang mengeluarkan suara-suara seperti binatang buas di sekitar kuburan anak-anak"
- Malay Magic: Being an Introduction to the Folklore and Popular Religion of the Malay Peninsula (Walter William Skeat, 1900)
"Pontianak (atau Mati-anak), sebagaimana telah dikatakan, adalah anak Langsuir yang lahir mati, dan wujudnya seperti induknya, sejenis burung hantu malam. Anehnya, tampaknya ini adalah satu-satunya roh yang naik ke martabat yang disebut sebagai "Jin", seperti yang terlihat dari mantra yang digunakan untuk mengusirnya"
- Java, facts and fancies (Augusta de Wit, 1900)
"Dalam dongeng Jawa, potongan rambut bidadari dan dewi disimpan sebagai jimat oleh para pendekar yang cukup beruntung mendapatkannya. Ada keutamaan yang besar misalnya pada rambut panjang Pontianak, makhluk halus kejam yang menghantui pohon beringin. Pernahkah Anda melihatnya meluncur, putih di bawah sinar bulan keperakan? Pernahkah Anda mendengarnya tertawa, keras dan lama, ketika keadaan hening? Dia adalah jiwa seorang perawan yang sudah mati, yang tidak pernah dicium oleh kekasihnya. Dan sekarang dia tidak bisa beristirahat, karena dia tidak pernah mengenal cinta; dan dia masih ingin memenangkannya; meski sekarang bukan dalam kebaikan, tapi dalam kedengkian dan dendam yang mematikan"
-Shaman, Saiva and Sufi, A Study of the Evolution of Malay Magic (Richard Olaf Winstedt, 1925)
"Di seluruh Malaysia teror dirasakan oleh tangisan Pontianak, roh wanita berbentuk burung yang menancapkan cakarnya yang panjang ke dalam perut seorang ibu hamil, membunuh dia dan anaknya"
Komentar
Posting Komentar