"๐—ฆ๐—ฟ๐—ถ๐˜„๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐˜†๐—ฎ" ๐——๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฆ๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ-๐—ฆ๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐—Ÿ๐—ผ๐—ธ๐—ฎ๐—น

Banyak yang meragukan eksistensi Sriwijaya sebagai entitas politik di masa lalu dengan alasan bahwa nama "Sriwijaya" baru muncul di abad ke-20 melalui penelitian-penelitian sejarawan barat, utamanya oleh G. Coeddes. Namun jika kita mau menelisik sumber-sumber lokal Nusantara, maka kita akan menemukan beberapa petunjuk mengenai adanya kerajaan besar di wilayah Sumatera, terutama di Palembang-Jambi, beberapa diantaranya adalah:

- ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฆ๐—ฒ-๐—ฆ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐˜‚ (๐Ÿญ๐Ÿฒ๐Ÿญ๐Ÿฏ ๐— )

Dalam Sejarah Melayu disebutkan :

" Sebermula dihikayatkan oleh orang yang empunya hikayat ini, bahawa negeri Palembang itu Palembang yang ada sekarang ini inilah. Dahulu negeri itu terlalu besar, sebuah negeri di Tanah Andalas tiada 
sepertinya". 

Dalam petikan teks dari Sejarah Melayu ini disebutkan bahwa dahulu sebelum masa Sang Sapurba & Demang Lebar Daun, Palembang pernah menjadi negeri terbesar di Andalas (Sumatera), bahkan negeri-negeri lain di Sumatera tidak ada yang menyamai kebesarannya. Dalam teksnya memang tidak disebutkan "Sriwijaya", namun jika kita hubungan dengan penelitian-penelitian sejarawan Barat & lokal, kerajaan besar yang pernah ada di Palembang pada masa kuno ya Sriwijaya 

- ๐—ฅ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—•๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—ช๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ง๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ต ๐—™๐—ฎ๐˜๐—ต๐—ผ๐—ป๐—ถ (๐Ÿญ๐Ÿด๐Ÿญ๐Ÿฏ ๐— )

Berbeda dengan Sejarah Melayu, Tarikh Fathoni secara jelas menyebutkan tentang kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang, 

" RAJA SERI BIJAYA itu berasal daripada [negeri] BALIMBAN (PELEMBANG, pen:) Orang Balimban (Palembang,pen:) pandai dan bijak berperang di jalan laut dan langkah rata-rata negeri sampai rata-rata di mana dia hendak pergi"
" Syahdan, maka adalah negeri LANQASUKA pun salin nama JAYA negeri RAJA SERI WIJAYA dan 'ashimah (ibu negeri, pen:) di negeri PALEMBANG. di waktu itulah RAJA SERI[IWI]JAYA dapat kuasa besar di dalam negeri-negeri Melayu khususnya."
" Syahdan, adalah kerajaan SERI WIJAYA memerintah taqriban [ertinya: lebih kurang, pen:) lima ratus tahun"

- ๐—ฆ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐—ฟ๐—ถ๐˜„๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—–๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป (๐Ÿญ๐Ÿฑ๐Ÿด๐Ÿฌ ๐— )

Di teks Carita Parahyangan dari tanah Sunda, disebutkan " Sang Sriwijaya di Malayu". Carita Parahyangan sendiri walaupun ditulis pada abad ke-16, namun menceritakan tentang raja Sanjaya yang hidup pada tahun 700an. Namun disini "Sang Sriwijaya" adalah nama raja, sedangkan nama wilayah atau kerajaannya adalah"Malayu", Malayu disini tentunya berbeda dengan Malayupura era Adityawarman

- "๐—ž๐—ฒ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐˜‚๐—ป๐—ผ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด" ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—บ๐—ฎ ๐—ข๐—ฟ๐—ถ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—น (๐Ÿญ๐Ÿฑ๐Ÿญ๐Ÿฎ-๐Ÿญ๐Ÿฑ๐Ÿญ๐Ÿฑ ๐— )

Dalam Suma Oriental yang ditulis oleh Tom Pires dimana dia mengutip data dari cerita-cerita orang Jawa dan Melayu, disebutkan bahwa orang Selat mengikuti Parameswara menetap di Melaka karena mereka terikat atau adalah bawahan dari Ketuanan kuno Palembang ( ancient lordship of Palembang). Istilah "ketuanan kuno" menunjukkan bahwa Palembang telah menjadi negeri besar jauh sebelum Parameswara dan ayahnya, Sang Aji Palembang berkuasa (sekitar 1300an), ketundukan orang Selat kepada Ketuanan kuno Palembang ini menunjukkan bahwa ketuanan kuno ini memiliki basis maritim yang identik dengan Sriwijaya.

- ๐—ก๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ถ๐˜ ๐—ฆ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ก๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜†๐˜‚ ๐—ง๐—ฒ๐—ฝ๐—ถ ๐—”๐—ถ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ง๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ผ ๐—ฆ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฅ๐—ฎ๐—ท๐—ผ-๐—ฅ๐—ฎ๐—ท๐—ผ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐˜‚ (๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐Ÿญ๐Ÿด๐Ÿฏ๐Ÿฌ ๐— )

Disebutkan nama Negeri Bukit Siguntang yang menyerang dan berhasil mengalahkan Negeri Malayu Tepi Air. Mungkinkah 2 nama ini adalah metafor dari pendudukan Sriwijaya (Shilifoshi) terhadap Melayu (Moloyeu)?? Pendudukan Sriwijaya atas Melayu dicatat oleh I Tsing dalam kunjungannya di Sriwijaya pada akhir tahun 600an

Nagari Siguntang manghadang parang
Kualo Batang Hari capek disarang
Malayu Tapi Aie taguncang-guncang
Mananglah Nagari Bukik Siguntang

Rajo Siguntang jo Rajo Puti
Baratuih tahun tarantang tali
Duduak di Bukik Kualo Ranjani
Kudian di Kualo Batang Hari.

Terjemahan:
Negeri Seguntang menghadang perang
Kuala Batang Hari cepat diserang
Melayu Tepi Air terguncang guncang
Menanglah negeri Bukit Seguntang

Raja Seguntang dengan Raja Putri
Beratus tahun terentang tali
Duduk di Bukit Kuala Ranjani
Kemudian di Kuala Batang Hari.

- ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฅ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ ๐—•๐—ถ๐—ฐ๐—ต๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ ๐— ๐˜‚๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜€ 

Pada eskpedisinya ke Sumatera Tengah pada 1889, Yzerman menyebutkan legenda lokal mengenai Muara Takus. Ia menceritakan bahwa: "di bawah pemerintahan pangeran terakhir Raja Bichau, negara itu begitu besar sehingga seekor kucing yang berjalan dari satu ujung ke ujung lainnya akan membutuhkan waktu 3 bulan."

Ini adalah ilustrasi atau analogi yang biasanya digunakan oleh orang Melayu untuk menunjukkan sebuah kota besar, menurut J. L. Moens, nama "Raja Bichau" mungkin merupakan bastardisasi dari kata "Sriwijaya"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐€๐ฉ๐š๐ค๐š๐ก ๐๐š๐ฆ๐š๐ฅ๐š๐ฒ๐ฎ ๐๐ž๐ง๐š๐ซ-๐๐ž๐ง๐š๐ซ ๐“๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐๐ข?

๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ป๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐— ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐˜‚-๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ-๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—š๐—ฒ๐—ผ๐—ด๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ต๐—ถ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐˜†๐—ฎ ๐—ฃ๐˜๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—บ๐˜† ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐Ÿญ๐Ÿฑ๐Ÿฌ ๐— ?

๐——๐—ฎ๐—ณ๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฅ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ-๐—ฅ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฟ๐—ถ๐˜„๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐˜†๐—ฎ (๐—ฆ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ณ๐—ผ๐˜€๐—ต๐—ถ, ๐—ญ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฏ๐—ฒ๐—ถ, & ๐—ฆ๐—ฎ๐—ป๐—ณ๐—ผ๐—พ๐—ถ)